Menjadi Petani dan Pedagang

Ade Yahya Prasetyo
19 Aug 2026 20:38

Sebulah terakhir saya sudah jarang sekali menghidupkan PC atau laptop karena rutinitas saya benar-benar berubah total semenjak saya memutuskan untuk terjun ke dunia perdagangan.

Sebelumnya saya telah berhasil menjual hasil Panen dari pertanian bawang merah saya, namun kali itu saya merasakan hal yang kurang enak dihati ketika hasil panen saya jual ke tengkulak, sepertinya proses menimbangnya kurang tepat, sepertinya harga dari bawang merah yang saya hasilkan berubah harga hanya karena berpindah tangan dan sepertinya saya merasa bahwa cara paling baik untuk menenangkan hati saya adalah dengan cara menjualnya sendiri.

As always, tanpa berpikir panjang saya memutuskan untuk membuka akun Shopee, Tiktok, Instagram, dan memulai Marketing Funnel, saya mencoba membangun sosial media untuk jualan, mulai posting hal-hal yang berhubungan dengan pertanian khususnya bawang merah, harapannya sosmed saya difollow akun2 yang tertarik terhadap pertanian dan bawang merah.

Singkat cerita saya berhasil memulai berdagang, lebah tepatnya kami karena saya memulai bisnis berdagang ini bersama kawan saya, 50:50 dan kami mulai mendapatkan beberapa pelanggan organik dari marketplace!

Yang Pertama / Yang Terbaik / Berbeda

Saat awal berjualan, kami sempat nongkrong dengan teman yang memang menggeluti bidang sales, ditengah perbincangan beliau mengatakan hanya ada 3 parameter agar bisnis kita dapat masuk kedalam market.

Dari ketiga parameter tersebut, satu parameter yang mungkin dapat kami garap, yaitu menjadi Berbeda. Sebenarnya effort kami saya lakukan cukup kecil dan remeh temeh, hanya menambahkan label disetiap kiriman bawang merah yang kami jual, that’s it.

Memang kami belum merasakan perbedaan value yang cukup signifikan, namun setidaknya kami mendengar beberapa impresi baik dari beberapa mulut tentang label ini, it works!

Perang Harga

Kami berhasil menjual cukup banyak bawang merah di dua minggu pertama, bahkan toko kami dinobatkan menjadi Star Seller di minggu ketiga, hingga akhir melempem di minggu keempat dan kelima.

Pelajaran yang kami petik atas penurunan penjualan diminggu keempat dan kelima adalah karena pada minggu keempat kami melakukan restock bawang merah, kami beli di pasar karena lahan saya belum panen, dan karena penasaran kami memutuskan untuk membeli bawang merah super, tentunya dengan harga yang tinggi.

Sementara itu, ternyata mayoritas buyer tidak terlalu memusingkan kualitas, bagi mereka impresi yang pertama adalah harga, entah apakah pada fase pengenalan bisnis apakah memang tidak bisa masuk dan bermain pada game quality.

Value Added

Saat ini kami mencoba menambahkan lebih banyak koleksi dagangan, kami coba memproses bawang merah yang penjualannya tidak begitu baik menjadi bawang goreng, dan kebetulan ada teman yang juga memberikan sample madu untuk kami coba jual.

Sebenarnya bertambahnya madu dan bawang goreng juga belum menghasilkan sesuatu yang positif, tapi mungkin saja karena kami masih bermain di game of quality tanpa modal ads yang kuat.

Perasaan sangat campur aduk, bahkan saya memasuki fase kadang mimpi sedang menerima orderan banyak via marketplace.

Saya percaya, setiap dagangan pasti punya pasarnya masing-masing, kami hanya perlu terus bergerak, melakukan progress, melakukan perbaikan-perbaikan kecil setiap waktu, sampai pada akhirnya, jackpot itu datang.