Berlatih Menderita
Hari ini saya baru menyelesaikan course Blender, video durasi 4 jam lebih yang mengajarkan tentang basic Blender dan 3D modeling dengan usecase Donat dan Secangkir kopi.
Saya tertarik ke bidang 3D sebenarnya sudah cukup lama, dulu pernah ngerjain side project Three.js saat covid. Sebuah event tahunan dari Kompas, Kompasfest. Yang karena covid mereka tidak bisa mengadakan event tersebut secara offline, sebagai gantinya mereka mengadakan event tersebut secara online dengan konsep metaverse, jadi mereka tetap bisa jual booth.
Berikut video recording yang masih tersimpan di google drive saat progress kompasfest sudah 80% jadi
Event tersebut berbayar dan dibuat menyerupai event sesungguhnya dimana user dapat jalan-jalan dan mengunjungi booth dari setiap vendor dan pada setiap booth setidaknya ada sebuah zoom event atau sesimple ads berupa banner / interactive content. Saat itu temanya Kompasfest Navigate dimana kita meng-explore planet-planet untuk menemukan gems berupa podcast, live concert, seminar, dll.
Kompasfest adalah salah satu project yang paling saya banggakan, selain client amat puas dengan hasilnya, itu adalah project yang benar-benar menantang bagi saya saat itu. Karena ini adalah pertama kalinya saya men-develop interactive 3D website deadline yang cukup ketat. Kami kerjakan dengan formasi 2 SWE dan 1 3D artist dengan deadline 3 bulan dan sebulan lebih saya habiskan untuk exploring Three.js, 3D modeling, 3D animation, baking & realtime rendering, dll.
Disaat itulah saya mulai sedikit paham apa gunakanya SIN, COS, TAN dan apa gunanya formula Linear Interpolation / Lerp. Saat itu juga saya menyesal kenapa baru ini saya mengerti betapa menyenangkannya memahami matematika.
Mendalami 3D Art
Setelah project itu selesai, saya benar-benar impulsif terhadap dunia 3D. Saya membeli 3D printer, Membeli course Blender, membeli course Three.js, belajar matematika dari awal di Khan Academy. Intinya saya menjalani banyak hal yang dapat membuat saya memahami 3D art lebih dalam.
Masalah klasik ketika saya terlalu bersemangat terhadap sesuatu adalah saat saya mulai mengalami struggle, suffer. Tentu belajar banyak hal sekaligus dan harus tetap keep-up dengan pekerjaan utama membuat saya sangat kewalahan, dan sesalnya saya tidak bertahan dan berhenti mendalami 3D :)
Saya baru-baru ini belajar bahwa salah satu indikasi bahwa otak kita sedang bertumbuh adalah ketika otak kita menderita, bisa dibilang stress yang positif, dimana otak kita berusaha keras memahami sesuatu yang rumit. Sebelumnya saya selalu tidak becus menghadapi stress positif ini, misal saat sedang membaca buku dan mulai bosan dan ingin berhenti, biasanya langsung saya turuti. payah!
Lagi-lagi, AI meyakinkan saya untuk tidak menggunakan AI
Dua hari yang lalu saya sedikit membuka diri terhadap AI, saya mencoba generate procedural video menggunakan Remotion dan dibantu AI. Awalnya saya sangat bersemangat. “Mungkin saya bisa menjadi content creator!” pikir saya saat itu juga.
Setelah melakukan eksperimen dengan generate sekitar 10 video, mengotak-atik workflow, saya kembali diyakinkan bahwa satu-satunya cara saya membuat sesuatu yang bernilai, bermakna adalah dengan kerja keras, suffer, menderita, tidak ada shortcut untuk ini.
Jika saya ingin membuat video sekelas Fern, Kok Bisa, Vertasium, satu-satunya cara adalah hire 3D artist atau saya belajar 3D modeling dengan benar.
Point dari tulisan ini adalah, saya benar-benar struggle mengikuti video durasi 4 jam. Harus dengan sabar mengikuti semua penjelasan dan details. Otak saya menderita tapi at the end of the day, semua usaha saya terbayar lunas. Berikut hasil donat dan secangkir kopinya.
